My US Experience Pt. 1: Daily Life in US
Sambil menunggu melewati hari-hari untuk kembali ke tanah air, akhirnya saya memiliki kesempatan waktu untuk menuangkan apa saja yang menjadi pengalaman saya di negeri Paman Sam ini. Dahulu sempat terpikir untuk menuangkan di blog selama masih disini, tetapi ternyata waktu tak memungkinkan, sooo… justru ketika akan kembali ke Indo, waktu sudah semakin renggang, bersiap-siap pulang sambil menjalani satu kelas dan dua internship di Summer ini – ada waktu juga untuk nge-blog.
Okay, pertama-tama saya jelaskan dulu kenapa pada akhirnya saya bisa ‘nyangkut’ di negeri superpower ini. Tahun lalu, saya terpilih untuk menjadi salah satu pelajar undergraduate program yang bernama CCIP, which is Community College Initiative Program. Yaitu program inisiatif dari pemerintah Amerika Serikat di bawah US Department of State dengan dana dari American tax-payers alias pajak yang dibayar oleh rakyat AS. Yes, they imported me to study in their country
*lol* And I’m thankful for that
(Anyway, di angkatan saya ada sekitar 57 Indonesians yang juga terpilih untuk belajar dan menjadi ‘small ambassador’ dalam program yang juga merangkap sebagai cultural exchange ini)
Owkay, kilas balik sedikit. Setelah melalui proses apply, seleksi, dan selanjutnya pemilihan kampus. Saya ‘diterbangkan’ ke Cedar Rapids yang dikenal sebagai City of Five Season di state Iowa untuk kuliah di Kirkwood Community College. Which is, ini adalah kampus Community College yang super gede dengan fasilitas yang oke punya. Lengkap dengan fasilitas Equestrarian, Hotel, Truck Driving, Gym (free for students, yayyy), dan lain-lain. Kalo dipikir-pikir, amaze juga sih bisa kuliah disini. Karena Community College di US tidak semuanya memiliki fasilitas selengkap ini.
Well, balik ke tujuan artikel ini. Saya tidak berniat untuk membandingkan keadaan dari negeri sendiri ke negeri orang lain. Kalau berbicara fakta, negara Paman Sam sudah pasti lebih maju dari negeri asal saya. Ukuran saya mengatakan hal tersebut adalah karena influence dari negeri superpower ini bisa dibilang masih besar atau sangat berpengaruh di peta perpolitikan dan perekonomian dunia. Dan juga begitu banyaknya dan majunya teknologi yang dipakai untuk kehidupan sehari-hari. Kita, bangsa Indonesia, menurut saya harus memulai dari nol terutama selepas kepimimpinan dari jatuhnya mantan presiden Soeharto di tahun 1998 lalu. Ibaratnya, kita sebagai bangsa Indonesia harus sama-sama berjalan merangkak dahulu untuk mencari nilai demokrasi yang sebenarnya dan sistem kemasyarakatan yang cocok dengan kita. Which means, we’re still learning to be more civilized… *lol*
Di seri pertama ini, saya mau membahas tentang daily life di negeri Paman Sam ini. Selama hampir setahun saya tinggal di Cedar Rapids, kota terbesar di Iowa dengan penduduk lebih dari 400 ribu. Yang sebenarnya masih lebih sedikit padatnya dengan Jakarta yang ada sekitar 11 juta penduduk (yang sumpek naudzubillah min dzalik). Pengamatan saya juga berdasarkan selama saya tinggal di negeri ini dan juga dari selama saya travelling ke kota-kota besar lainnya di United States.
Kehidupan sehari-hari yang saya ungkapkan disini adalah bagaimana sangat disiplinnya masyarakat Amerika Serikat dengan peraturan-peraturan yang ada. Dimana saya yakin itu adalah behaviour dan attitude dari negara-negara maju (developed) lainnya seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa, dan lain-lain. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Amerika memikirkan apakah tindakan mereka adalah sesuatu yang legal atau tidak. Hal ini tentu saja terutama penegakan hukum yang sangat jelas dan tegas di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, so mereka sangat berhati-hati jika sudah berurusan dengan hukum dan legalitas dalam kehidupan sehari-hari.
Kembali ke Indonesia, rasanya tidak perlu saya jelaskan sedetil apa dan juga mengungkapkan contoh-contohnya. Permasalahan di Indonesia sudah pasti dikarenakan masih ada saja oknum penegak hukum yang masih bisa dibeli dan tidak tegas, yang mengakibatkan sebagian rakyat Indonesia menganggap enteng hukum yang ada. Sudah tahu dilarang buang sampah, masih saja buang sampah. Dilarang merokok, masih saja merokok di ruang publik. Diharuskan pakai helm, masih saja tidak memakai helm.
Ketika di US, contohnya ketika saya dan teman-teman ingin pergi ke sebuah tempat dengan mobil sedan teman kami yang sudah pasti harus berisikan maksimum 5 orang saja. Sedangkan kami ada sekitar 9 orang, we should think twice to get in to the car. Kalau di Indo, kita mungkin sudah cuek-cuek saja masuk mobil dan tancap gas. Cuek sumpek-sumpek di dalam mobil serasa naik angkot, haha. Tetapi itu tidak mungkin jika di AS, bisa-bisa kena denda!
Hal seru lainnya adalah betapa amannya pejalan kaki di negeri Paman Sam ini. Dimanapun pejalan kaki sangat didahulukan. Umumnya para pengemudi-pengemudi di Amerika ini jika sudah melihat pejalan kaki, mereka akan berhati-hati, melambatkan laju kendaraannya, dan membiarkan kita untuk lewat terlebih dahulu. Kenapa? Karena sekali mereka menabrak pejalan kaki, license mengemudi bisa langsung dicabut! Yang bisa berlangsung seumur hidup. Sedangkan memiliki dan mengendarai kendaraan adalah hal penting.
Berbeda dengan di Jakarta! Atau mungkin di Indo, lebih jelasnya. Doh! Belum lagi oleh sopir-sopir angkot dan bus yang suka semena-mena kalau mengemudi, kita harus waspada tingkat tinggi kalau sudah di jalan. Nyaris keserempet sudah jadi urusan sehari-hari.
Hal menarik lainnya adalah betapa sadarnya setiap orang di Amerika ini akan kepemilikan barang orang lain. Di berbagai tempat publik, ada banyak box dimana itu menjadi kotak sarana untuk mengembalikan barang pinjaman. Misalkan kotak besar seperti kotak pos dari public library, rental video seperti Red Box atau Netflix, dll. Dan itu bisa tersebar di ruang publik tanpa perlu was-was misalkan ada orang yang mengambil barang-barang di dalamnya. Terkadang sambil melewat barang-barang tersebut, saya dengan teman-teman Indo saya suka bercanda, “Deuh, kalo di Indo dah hilang nih barang-barang…”
Hal yang sama terjadi dengan urusan pos di negeri ini. Urusan kirim-mengirim barang sangat aman dan jelas tanpa takut jika ada petugas pos yang menyatut barang kita. Di negeri paman Sam, jangan takut jika kita membeli online. Akan dipastikan urusan shipping aman dan tidak ada ‘catutan’ dari petugas pos. Saya masih ingat ketika dahulu saya mendaftar CD gratis dari Ubuntu organization untuk dikirim ke rumah di Jakarta. Begitu tiba di kantor pos wilayah saya, saya ‘dilayangkan’ surat untuk mengambil barang tersebut di kantor pos terdekat sambil membayar uang sekitar 70 ribu rupiah. Deuh, tahu begitu mending saya download saja softwarenya dari websitenya sekaligus daripada harus menunggu CD-nya datang. Toh dengan 2 jalur tersebut sama-sama free dan legal karena OS Ubuntu merupakan software open source.
Overall, memang rasanya tidak sebanding jika membandingkan kehidupan sehari-hari di antara kedua negara ini. Amerika Serikat adalah negara maju yang sudah melewati banyak sejarah semenjak mereka berdiri, sedangkan Indonesia adalah negara yang masih belajar dewasa semenjak merdeka tahun 1945 lalu. Rakyat Amerika sudah mendapatkan ‘sistem’ masyarakat yang cocok dengan elemen-elemen keragaman yang mereka miliki. Dan itu sudah mendarah-daging dalam kehidupan masyarakat Amerika. Ditambah lagi dengan sistem penerapan hukum yang jelas dan tegas oleh petugas hukum dan pemerintah Amerika, membuat rakyat pun memikirkan setiap tindak-tanduk mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Bagaimana dengan Indonesia? Menurut saya, demokrasi kita masih meraba-raba. Kepemimpinan pemerintahan kita yang berganti setiap lima tahun sekali masih mencari ‘gigi’-nya kembali setelah terhilang statusnya sebagai ‘macan Asia’ dahulu. Dan… rakyatnya pun masih perlu dididik lebih lagi untuk mematuhi peraturan-peraturan yang ada. Bagaimana dengan Anda? Masih mau mematuhi peraturan jika ternyata menemukan penegak hukum yang tidak tegas dan jelas juga bisa dibeli? Urusan legalitas tampaknya belum menjadi pertimbangan kita di Indonesia jika berurusan dengan kehidupan sehari-hari. Tetapi mudah-mudahan itu akan berubah karena pemerintah kita dapat tegas dan tidak dibeli, serta rakyatnya yang bersinergi untuk membangun bangsa.
Selanjutnya, saya akan membahas pengalaman dan pencermatan saya akan kehidupan sehari-hari di AS yang menurut saya nilai-nilai positifnya dapat kita tiru dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti bagaimana public library menjadi tempat umum yang merupakan tongkrongan wajib warganya (tidak seperti Jakarta, mall melulu!), bagaimana rakyat AS mengemukakan pendapatnya kepada pemerintah tidak dengan berdemonstrasi yang menguras tenaga tetapi efektif, disability act – yaitu fasilitas-fasilitas penting bagi warganya yang cacat, dan lain-lain!
Note: Semua tulisan seri ini utamanya akan saya tulis dalam bahasa Indonesia, sebagai sarana saya menulis pengalaman saya untuk sama-sama belajar dan membedakan antara kedua negara (Amerika Serikat dan Indonesia) kepada masyarakat Indonesia yang mungkin tak terbiasa dengan bahasa Inggris. Perbedaan yang ada bukan untuk memilih mana yang lebih baik dan tidak, tetapi untuk memetik nilai positif dari negeri asing yang saya diami selama hampir setahun ini. Saya percaya ini semua agar kita menjadi bangsa yang civilized dan menjadi sejajar dengan bangsa maju.







